Kamis, 10 Januari 2013 , 06:41:00
SORONG – Sebanyak 5 unit bangkai kapal kayu terlihat masih
bersandar di tepi dermaga pelabuhan Perikanan Pantai. Lima bangkai kapal
kayu tersebut, terkesan sengaja dibiarkan pemiliknya tanpa diurus untuk
dipindahkan, sehingga membuat pemandangan tak sedap dan terkesan
berserakan. Padahal, kelima bangkai kapal kayu yang tinggal kerangka
serta dinding kayunya itu, sudah bersandar di pelabuhan Perikanan sejak
kurang lebih tiga tahun lalu. Pihak Syahbandar sendiri telah
melayangkan surat teguran dan meminta agar para pemilik bangkai kapal
dapat memindahkan bangkai kapalnya tersebut.
Namun demikian, hingga kemarin kelima bangkai kapal kayu masih terlihat
berserakan di pantai dermaga tersebut. Syahbandar Farian K. Sulaiman
,S.pel kepada Koran ini saat dikonfirmasi di ruang kerjanya kemarin
(9/1) mengatakan, pihaknya akan kembali melakukan koordinasi dengan
para pemilik bangkai kapal, agar segera mengambil langkah untuk
membersihkan bangkai kapalnya dari dermaga pelabuhan Perikanan Pantai
secepatnya.
Diakuinya kendati tidak menganggu aktifitas bongkar muat dan sandar
kapal kayu serta kapal nelayan lainnya, namun keberadaan bangkai kapal
menganggu pemandangan dan kebersihan dermaga. â€Å“Kami sudah mengirimkan
surat kepada pemiliknya tapi sampai sekarang belum ada
tindaklanjutnya,â€jelas Farian seraya menambahkan, melihat kondisi
tersebut, pemilik bangkai kapal terkesan sudah tidak perduli dengan
barangnya. Dimana saat ini kelima bangkai kapal yang berserakan
tersebut, sebagain sudah rusak karena terkikis air laut. Kelima bangkai
kapal sendiri disandarkan ditepi dermaga.
â€Å“Kalau misalnya dipindahkan memang tempatnya dapat kita manfaatkan
untuk sandar kapal-kapal yang lain juga,â€ujarnya. Pihaknya pun
memberikan deadline waktu kepada pemilik kelima bangkai kapal kayu untuk
segera membersihkan paling lambat bulan ini. Jika dalam bulan ini tidak
juga dibersihkan, pihak Syahbandar tidak bertanggungjawab jika kayu
bangkai kapal diambil orang.
â€Å“Itu kayu-kayu bangkai kapal kan juga bisa dimanfaatkan untuk kayu
bakar, tapi orang mau ambil juga kan masih takut karena ada
pemiliknya,â€imbuhnya. Dikatakan puyla, di Pelabuhan Perikanan
pantai, sedikitnya terdapat belasan kapal kayu yang sandar dan
beroperasi. Selain itu juga terdapat beberapa kapal nelayan yang sandar
secara temporer atau sewaktu-waktu saat kembali dari mencari ikan.
â€Å“Dua bulan sekali juga ada kapal dari luar kota yang sandar dan bawa
sembako untuk dijual, peralatan perikanan saat sandar di
Sorong,â€pungkasnya.(reg
(Sumber: Radar Sorong, edisi Kamis 10 Januari 2013)
~ David Liyod George ~
Pelabuhan
Perikanan Agar Diperluas
SORONG - Dengan semakin banyaknya
kapal ikan yang sandar di Pelabuhan Perikanan tipe C Kota Sorong, pihak
syahbandar pelabuhan perikanan Kota Sorong sangat berharap agar ada penambahan
luas dermaga. Sekarang ini dermaga perikanan Kota Sorong seluas 90- 200 meter,
sementara ada beberapa kapal yang sandar di pelabuhan tipe C tersebut dengan
panjang 70-80 meter sehingga mengalami kendala saat sandar.
Menurut Farian, Kepala Syahbandar Pelabuhan Perikanan Kota Sorong, dengan
adanya rencana untuk penambahan luas pelabuhan perikanan dari Dinas Kelautan
dan Perikanan Provinsi Papua Barat, pihaknya sangat mendukung sekali rencana
tersebut, karena memang pelabuhan perikanan ini perlu ada pengembangan.â€Å“Untuk
sekarang ini kapasitasnya hanya untuk sandar sekitar 10-11 kapal, itupun tidak
bisa langsung bersamaan sandar. Untung saja, kapal-kapal ikan yang masuk dalam
pelabuhan tipe C ini memiliki line panjang, artinya mereka berlayar sekitar 3
bulan dan baru bongkar di sini, â€Å“ katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk itu pihaknya sangat mendukung program yang
akan dilaksanakan DKP Provinsi terkait denga rencana pengembangan dermaga ini,
karena memang pelabuhan perikanan Kota Sorong ini sudah seharusnya
dikembangkan. Terlebih lagi di Papua dan Papua Barat ini, untuk pelabuhan
perikanan tipe C hanya ada di Kota Sorong. Itu artinya bahwa pelabuhan ini
sentral bagi bongkar muat hasil laut untuk industri berupa ikan dan udang,â€
imbuh Farian. (iso)
(Radar Sorong Edisi Selasa, 16 April
2013)
~ James Thurber ~
Pelabuhan Perikanan Kota Sorong Layak Dikembangkan
Oleh mc sorong
Rabu, 10 April 2013 | 08:27
Sorong, InfoPublik - Pelabuhan Perikanan tipe C Sorong saat ini memiliki
ukuran panjang 90 meter dan lebar 20 meter, maka dengan ukuran itu
dinilai sangat layak untuk dikembangkan. Karena kapal-kapal yang akan bersandar
di pelabuhan tersebut menjadi kendala dan hanya 10 hingga 11 kapal saja
yang bisa sandar.
“Untung saja selama ini kapal
yang berlayar setiap 3 bulan baru melakukan kegiatan bongkar muat
di sini. Jadi ada jeda waktunya cukup panjang. Jika tidak, maka menjadi
terganjal aktivitas yang ada,” jelas Kepala Syahbandar Pelabuhan Perikanan
Sorong Farian, Selasa (9/4).
Pelabuhan perikanan yang ada di
Papua dan Papua Barat dan salah satunya saja yang ada di Sorong masih
miliki tipe C. Kegiatan bongkar muat yang dilakukan yakni
hasil-hasil laut berupa ikan dan udang untuk industri.
“Kita ketahui bersama bahwa potensi
hasil laut di kawasan Papua dan Papua Barat prospeknya sangat menjanjikan.
Tentu terkait hal itu, harus didukung dengan sarana dan prasarana yang lebih
memadai,” katanya.
Dengan adanya rencana
pengembangan areal pelabuhan tersebut, kata Farian, sudah
mendapat respon dari Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat.
Hanya sekarang tinggal menunggu kapan rencana itu akan bisa terwujud, harapnya.
)MC.Sorong/dim/rim/toeb)
~ La Roucefoucauld ~
KOTA SORONG
Pelabuhan Perikanan Bebas Pungli
Senin, 15 Oktober 2012
SORONG (Suara Karya): Pelabuhan Kota Sorong yang selama ini ramai
dikunjungi baik kapal perikanan maupun kapal penumpang dan barang, bebas dari
pungutan liar (pungli). Hal ini berdasarkan observasi lapangan sejumlah anggota
DPRD Papua Barat akhir pekan lalu. Bahkan Pelabuhan Perikanan Sorong sangat
membantu masyarakat pedesaan yang mengangkut barang dari dan ke pesisir pelosok
setempat.
"Kami baru melakukan observasi di Pelabuhan Perikanan Sorong
untuk menjaring aspirasi masyarakat tentang keberadaan pelabuhan tersebut bagi
pertumbuhan pembangunan di daerah itu. Ternyata, sangat membantu perkembangan
ekonomi pedesaan (perkampungan) di Papua Barat, khususnya Kota Sorong dan
sekitarnya, karena menerima sandarnya kapal-kapal barang dan penumpang, bukan
hanya khusus bagi kapal-kapal perikanan saja," kata Amelia Simorangkir,
salah seorang anggota DPRD Papua Barat kepada pers di Sorong kemarin.
Dikatakan Amelia, pihaknya sengaja melakukan observasi di
pelabuhan khusus (Pelabuhan Perikanan Sorong) karena warga pedalaman sering
melakukan kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan itu. Dan, menurut Amelia,
pernah ada laporan bahwa sejumlah pelabuhan khusus di Sorong memungut upah
labuh dan lainnya yang sangat memberatkan warga kecil.
Bahkan sesuai informasi, petugas-petugas pelabuhan khusus di Kota
Sorong memungut biaya labuh dan lainnya tidak beraturan. "Misalnya,
pungutan uang penumpukan barang antara pemilik barang satu dan lainnya tidah
sama, padahal volume penumpukan sama," kata Amelia.
Kemudian, pihak pelabuhan juga memungut uang labuh tidak sesuai
dengan aturan karena kebanyakan pengutan tidak disertai kuitansi. Nah, akibat
ulah oknum-oknum seperti itu, membuat DPRD Papua Barat turun lapangan untuk
mengecek kebenaran laporan itu.
Menjawab pertanyaan wartawan, Amelia mengatakan, apabila terbukti
ada petugas yang memainkan baik harga labuh maupun pungutan penumpukan sehingga
merugikan masyarakat kecil, maka pihak DPRD akan melaporkan hal itu kepada
instansi yang berwenang. Dan, juga laporan itu disampaikan kepada Gubernur
Papua Barat, Abraham O Atururi.
Syahbandar Pelabuhan Perikanan Sorong, Farian Soleman, S.Pel,
ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan, khusus pelabuhan yang dipimpinnya,
dipersilakan diperiksa. "Saya tak pernah takut karena kami selalu
diperiksa baik dari Wali Kota Sorong maupun gubernur dan juga dari inspektorat
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Oleh karena itu, saya tidak takut diperiksa
karena kami bekerja di dalam koridor hukum," kata Farian kemarin. (Yacob
Nauly)
~ Kahlil Gibran ~